Langsung ke isi

Requiem bagi yang Belum Selesai

Elegia Ontologis tentang Kehidupan, Kefanaan, dan Absurditas Menjadi

Dengarkan artikel

Poetry / Existential Reflections

Requiem bagi yang Belum Selesai

Elegia Ontologis tentang Kehidupan, Kefanaan, dan Absurditas Menjadi

Di rahim waktu yang tak pernah mengandung keabadian,
manusia dilahirkan sebagai interogasi tanpa tanda tanya;
seonggok ontologi yang dipaksa bernapas,
di antara nihilisme yang menyamar sebagai kebebasan
dan takdir yang menertawakan segala kemungkinan.

Kita adalah metafora yang kehilangan penyairnya,
sebuah antitesis dari keinginan untuk tetap ada,
sementara semesta, dengan dingin yang nyaris metafisis,
mengajarkan bahwa eksistensi
hanyalah penundaan panjang menuju ketiadaan.

Betapa ganjil menjadi manusia.

Kita menamai luka sebagai pengalaman,
menyebut kehilangan sebagai pendewasaan,
dan mengabadikan kesedihan dalam aksara
seolah bahasa mampu menyelamatkan sesuatu
dari kebiadaban waktu.

Padahal setiap kata adalah epitaf kecil
bagi sesuatu yang tak sanggup kita pertahankan.

Di altar kesadaran,
akal mempersembahkan logika kepada absurditas,
sementara hati, sang pendosa epistemologis,
terus mempercayai sesuatu
yang bahkan tak mampu dibuktikan oleh keberadaan.

Kita mencintai yang fana,
memuja yang sementara,
menggenggam yang niscaya terlepas,
lalu menyebut seluruh kontradiksi itu
sebagai kehidupan.

Ah, kehidupan—

engkau bukan sungai yang mengalir menuju samudra,
melainkan samudra yang berpura-pura menjadi sungai;
menjanjikan muara kepada setiap arus,
padahal kedalamanmu sendiri
tak pernah mengenal kepulangan.

Di antara dialektika hasrat dan keterbatasan,
manusia membangun istana dari kemungkinan,
menegakkan pilar-pilar harapan
di atas fondasi ketidakpastian,
kemudian menangis ketika kenyataan
menagih utang dari segala yang diimpikan.

Bukankah kebahagiaan sering kali
hanya eufemisme bagi penderitaan
yang untuk sementara kehilangan suaranya?

Dan bukankah kedewasaan
adalah seni menyembunyikan kehancuran
di balik wajah yang telah mahir
memalsukan ketenangan?

Kita berjalan membawa paradoks:
ingin dikenang, tetapi takut diketahui;
ingin dimengerti, tetapi enggan ditelanjangi;
mendambakan keabadian,
namun bahkan tak sanggup berdamai
dengan satu malam kesunyian.

Di hadapan cermin,
aku menemukan seseorang
yang secara biologis masih hidup,
secara sosial masih bernama,
tetapi secara eksistensial
telah berkali-kali menghadiri pemakamannya sendiri.

Sebab ada kematian
yang tak membutuhkan liang lahat.

Ada kehilangan
yang tak pernah didahului perpisahan.

Ada kehampaan
yang justru tumbuh paling subur
di tengah kelimpahan.

Dan ada manusia
yang sepanjang hidupnya mencari rumah,
tanpa menyadari bahwa dirinya sendiri
telah lama menjadi reruntuhan.

Waktu, sang tiran tanpa singgasana,
tak pernah membunuh dengan tergesa.
Ia mengikis kita melalui kebiasaan,
meluruhkan cita-cita melalui kompromi,
dan mengubah segala yang dahulu sakral
menjadi sekadar kenangan
yang kehilangan daya untuk menyakitkan.

Hingga pada suatu senja,
ketika matahari menumpahkan darah terakhirnya
ke cakrawala yang tak memiliki belas kasihan,
kita akhirnya memahami:

bahwa hidup bukanlah tragedi
karena ia harus berakhir,
melainkan karena manusia diberi kesadaran
untuk mengetahui akhir itu
jauh sebelum ia tiba.

Namun barangkali,
justru di sanalah martabat eksistensi bersemayam.

Pada keberanian mencintai
meski mengetahui kehilangan adalah keniscayaan.

Pada kesediaan berharap
meski probabilitas tak pernah menjanjikan kepastian.

Pada keteguhan untuk tetap menjadi manusia
di tengah semesta
yang tidak berkewajiban memahami kemanusiaan.

Maka biarkan aku hidup
bukan sebagai pemenang atas kefanaan,
melainkan sebagai saksi
bahwa sesuatu yang sementara
pun dapat mengandung makna yang tak terhingga.

Sebab jika pada akhirnya
seluruh nama menjadi debu,
seluruh ingatan menjadi sunyi,
dan seluruh ambisi menyerah
kepada entropi yang tak mengenal ampun,

setidaknya pernah ada satu jiwa
yang menolak menjadi sekadar angka
dalam aritmetika kematian.

Satu kesadaran
yang pernah mencintai tanpa jaminan,
berpikir tanpa kepastian,
dan bertahan tanpa mengetahui alasan.

Lalu ketika ketiadaan
mengetuk pintu keberadaanku,
aku tak akan bertanya
mengapa hidup begitu singkat.

Aku hanya akan berbisik
kepada waktu yang telah menghabiskanku:

"Aku tidak pernah benar-benar memahami kehidupan.
Namun di tengah segala absurditasnya,
aku telah berusaha menjadi manusia."

Dan mungkin,
itulah satu-satunya keabadian
yang tak membutuhkan keabadian.

“Manusia bukanlah makhluk yang sedang menuju kematian; ia adalah kesadaran yang terus-menerus merundingkan makna dengan kefanaannya sendiri.”

Sumber: Khazanah Irsyads, 2026Oleh Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir

Cara mengutip

Muhammad Irsyad Sirojul Khoeir (2026). Requiem bagi yang Belum Selesai. Irsyads.

Format lain (Chicago, Harvard, BibTeX) di mode baca